cara pembagian daging kurban
Khutbah Jumat
S
syahputra
27 April 2026
4 menit baca
1 views
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ...
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Senantiasa kita dihadapkan pada momen-momen agung, pada kesempatan-kesempatan emas yang mestinya menyalakan api kerinduan dalam jiwa, membangkitkan semangat pengabdian, dan menggemakan takbir cinta kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Termasuk di dalamnya adalah ibadah kurban, sebuah syiar yang mencerminkan penyerahan diri total, pengorbanan harta demi menggapai ridha Sang Pencipta. Namun, seiring dengan gemuruh takbir Idul Adha, muncul pula pertanyaan yang menggema di benak kita: bagaimana seharusnya daging kurban ini kita bagi? Sebuah persoalan fiqih yang tak terpisahkan dari esensi spiritualitasnya. Ingatlah, setiap tetes darah yang tertumpah adalah saksi bisu ketaatan kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Barangsiapa yang berqurban, maka hendaklah ia tidak menyimpan dari hewan kurbannya melebihi tiga hari." (HR. Muslim). Perintah ini, wahai saudaraku, bukanlah sekadar aturan teknis, melainkan panggilan untuk berbagi, untuk menyebarkan keberkahan dari ibadah kita. Tiga hari adalah batas waktu yang diberikan, untuk memastikan bahwa nikmat kurban ini dapat dirasakan oleh lebih banyak saudara kita yang membutuhkan. Bukankah Allah Maha Mencintai orang-orang yang berbagi? Bukankah di dalam kebahagiaan orang lain, tersimpan pula kebahagiaan hakiki bagi diri kita?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Pembagian daging kurban memiliki aturan yang jelas dalam syariat, yang bertujuan untuk menegakkan keadilan dan merajut ukhuwah Islamiyah. Daging kurban dibagi menjadi tiga bagian utama: sepertiga untuk yang berkurban, sepertiga untuk dihadiahkan kepada kerabat dan teman, dan sepertiga lagi untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Namun, perlu digarisbawahi, bahwa bagi mereka yang berkurban sunnah, mereka boleh mengonsumsi seluruhnya atau menyedekahkan seluruhnya, bahkan menyimpan lebih dari tiga hari. Berbeda halnya dengan kurban yang bernazar, yang seluruhnya wajib disedekahkan dan tidak boleh dimakan oleh yang bernazar beserta keluarganya. Sungguh, Allah Maha Adil dalam setiap ketetapan-Nya.
Firman Allah yang terukir dalam Al-Qur'an menegaskan pentingnya berbagi rezeki: {وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۠ وَأَحْسِنُوا ۠ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} (Al-Baqarah: 195). "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." Ini adalah seruan, sebuah kobaran semangat agar harta yang Allah titipkan pada kita menjadi jembatan ke surga, menjadi bekal di alam akhirat kelak.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Melihat wajah-wajah bahagia mereka yang menerima daging kurban dari tangan kita, bukankah itu adalah pemandangan yang teramat indah di mata Allah? Bukankah itu adalah bukti nyata keimanan kita yang menyertai takbir yang kita kumandangkan? Jangan biarkan semangat berbagi ini padam oleh bisikan syaitan yang menggoda kita untuk menyimpan dan menumpuk harta. Ingatlah, kehidupan dunia ini hanyalah sementara, dan amalan kitalah yang akan menyertai kita ke hadapan Allah. Jangan sampai harta yang kita miliki justru menjadi sebab penyesalan yang tiada berujung di akhirat.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum menyimpan daging kurban, dan beliau bersabda: "Makanlah, berikan sedekah, dan simpanlah." (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, ketika pertanyaannya berbeda dan beliau bersabda: "Adapun kurban kalian, makanlah darinya, berikan sedekah, dan simpanlah selama setahun." Hingga datanglah tahun berikutnya, kaum muslimin pada masa itu memiliki udhiyah (kurban) yang banyak, maka beliau bersabda: "Makanlah, berikan sedekah, dan simpanlah!" Kemudian datang tahun ketiga, ketika ada musibah menimpa kaum muslimin (kekeringan), maka beliau bersabda: "Adapun tahun lalu, kita telah melakukan sesuatu (menyimpan daging). Maka tahun ini, makanlah dan berikan sedekahlah, dan simpanlah." Ini menunjukkan bahwa ketika kondisi mendesak, Islam mengatur agar yang paling utama adalah memberikan makan kepada yang lapar.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Api semangat ini harus terus membara dalam dada kita. API ketaatan yang menyala hanya karena Allah! API kerinduan yang meronta untuk meraih cinta-Nya! API ketakutan yang menggetarkan hati dari adzab-Nya! Pembagian daging kurban yang adil, yang merata, adalah wujud nyata dari cinta kita kepada sesama, yang secara otomatis adalah cinta kita kepada Allah. Jangan sampai kita memisahkan antara ibadah kurban dengan kepedulian sosial. Keduanya adalah mata rantai yang tak terpisahkan dalam sebuah keyakinan yang utuh.
Bila hati kita merasa berat untuk berbagi, tanyakan pada diri sendiri: apakah kita begitu mencintai dunia ini lebih dari akhirat? Apakah kita lebih gemar mengumpulkan harta daripada mengumpulkan pahala? Ingatlah ayat ini, yang seharusnya menggetarkan jiwa yang terdalam: {يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} (Asy-Syu’ara: 88-89). "Pada hari ketika harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." Hati yang bersih adalah hati yang tulus, hati yang ikhlas, hati yang senantiasa memprioritaskan Allah di atas segala-galanya.
Marilah kita renungkan, wahai saudaraku yang terkasih dalam panggilan Allah. Betapa tipisnya dunia ini di mata penghuni akhirat. Betapa besar rahmat Allah yang melimpah ruah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah dan beramal saleh. Mari kita nyalakan kembali obor semangat pengorbanan, mari kita sebarkan kebaikan dari ibadah kurban ini. Jangan biarkan tangan kita terkatup, jangan biarkan hati kita membatu. Biarkan hati kita tergerak, tangan kita terulur, dan segala yang kita miliki menjadi saksi bisu cinta kita kepada Rabbul 'alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.